Aku pernah mbaca sebuah buku kecil tentang pembentukan konsep diri pada anak. Bagaimana “memposisikan” diri kita pada anak, agar anak merasa nyaman, “enjoy” pada kita, dan yang pasti ini akan menambah nilai positif pada diri mereka.
1. Menciptakan hubungan yang dekat dan positif dengan anak
Hubungan yang dekat & positif, bukan hanya terletak pada kedekatan fisik tetapi lebih pada hubungan emosional. ada anak yang 24 jam penuh bersama orangtuanya, namun diantara mereka tidak terjalin hubungan emosional yang dekat. Sebaliknya, ada pula orangtua yang waktunya bersama anak-anaknya lebih sedikit, namun kualitas hubungan emosionalnya lebih tinggi. Jika anak memiliki hubungan yang dekat dan positif dengan orangtua, anak akan merasa bahwa dirinya “berharga” dan “layak dicintai”. Hal ini memberi kontribusi besar terhadap pembentukan konsep dirinya. Menciptakan hubungan dekat dan positif antara lain bisa dicapai dengan :
a . Tidak sungkan meminta maaf.
Pernahkah kita meminta maaf pada anak kita? Aku pasti menjawab sering. Ya, Aya tidak akan merubah “kerucut” mulutnya menjadi senyuman apabila kita tidak minta maaf terhadap salah kita. Kadang sulit bagi kita untuk meminta maaf ke anak. Salah satu kesalahan terbesar orangtua adalah menganggap dirinya tidak pernah salah. Satu anggapan yang tidak benar tentunya, hanya menunjukkan arogansi kita sebagai orang yang lebih tua, lebih gede badannya dan sok kuasa. Padahal dengan orangtua meminta maaf pada nak, Insya Allah anak akan merasa dihargai dan dia juga akan mudah meminta maaf pada orang lain.
b. Senang berterimakasih
Sekecil apapun yang dilakukan anak kita terhadap kita, biasakanlah mengucapkan terimakasih. Hal ini akan memotivasi anak untuk mengulangi perbuatan baik tersebut dan dia juga akan senantiasa mengucapkan terimakasih atas bantuan oranglain.
c. Yakinkan bahwa dia sangat berharga
Yakin 100% bahwa orangtua cinta pd anaknya. Tp tidak ada salahnya sekali2 kita mengucapkan “I Love You” padanya. Dia akan merasa berharga dan layak dicintai. Perasaan itu jika sering diucapkan akan menjadi semakin kuat.
d . Menyiapkan secara hati - hati kehadiran adik
Nha ini yang sulit banget. Teori pasti lain dari kenyataan. Aya sudah kami biasakan untuk menerima kehadiran adiknya. Dan sebenarnya diapun juga sudah menanti nanti adik baru. Dari mulai mengajak ngobrol dg adik diperut, ikut kontrol dokter liat adik lewat USG, dibacain buku2 tentang adik baru , dll, tapi kecil banget pengaruhnya tuh. Awal adiknya lahir rumah kami serasa kapal pecah. Membanting buku, bantal, boneka, pintu (untungnya barang pecah belah gak ada yg dilempar), mengompol, rewel, dan semacamnya adalah bentuk demonstrasi yang ditunjukkan Aya pada kami. Duh, sabar….. sabar… Sedikit demi sedikit di beri pengertian, akhirnya setelah 10 bulan kehadiran adiknya, mulai deh bisa mengendalikan diri, walaupun kadang - kadang cemburu masih ada.
2. Melakukan ‘debriefing’ untuk meluruskan masalah
Tidak selamanya kita bisa bersikap baik didepan anak. Tidak selamanya pula kita bisa menjaga hal - hal yang tidak pantas didengar atau ditiru anak terjadi didepan mereka. Misalnya, tanpa sengaja ayah ibu bertengkar didepan anak, atau kita mengumpat terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Hal ini dapat membuat anak merasa bingung, takut, sedih, kecewa, dll. Jika terjadi hal seperti ini, ajaklah anak untuk berdialog, mengungkapkan semua perasaannya setelah melihat “insiden” tadi. Setelah itu, kita dapat mengklarifikasi sesuai dengan logika dan bahasa yang bisa dimengerti anak.
Pernah terjadi, kami berdebat dengan suara keras. Sebenarnya bukan bertengkar, hanya debat kusir ngalor ngidul yang kami lakukan dengan suara kenceng. Tanpa kami sadari, Aya tiba-tiba menyela ” woooo, ayah ibu bertengkar ya. Dosa lo!!”. Astaghfirullah… saking asiknya ngotot dengan pendapat masing-masing, kami tidak sadar bahwa ada sepasang kuping mungil yang ikut mendengarkan. Ya, akhirnya kami jelaskan bahwa ayah ibu tidak bertengkar, hanya sedikit salah paham tentang suatu hal dan lupa kalo bicaranya terlalu keras. Tapi ayah ibu sudah minta maaf …
Upaya ini akan membuat anak memahami hal-hal yang sebelumnya membuatnya terkejut, takut atau berkecil hati. Insya Allah..
3. Menghindari “labeling”
Labeling adalah hal yang biasa dilakukan orang tanpa sadar. Banyak orangtua karena tidak sadar dengan tingkahlaku anaknya mengeluarkan kata-kata “sakti” : nakal!!!, ngeyel!!!, njelehi!!!, cah bodo!!!. Ucapan-ucapan itu sebenarnya sangat tidak berguna, karena :
- Ucapan orangtua adalah doa (terutama ibu). Sadarilah kekuatan ucapan orangtua. Tidak ingin bukan, jika anak kita benar-benar nakal dan bodo?. Banyak-banyak istighfar adalah hal baik yang perlu kita lakukan dalam menghadapi anak yang sulit diatur, selain tentu saja kita juga harus memberi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sulitkan menjaga lisan yang tak bertulang ini???
- Kata - kata “label” tadi akan terekam baik oleh anak. Dia akan selalu berpikir bahwa dirinya seperti yang dikatakan orangtuanya. Misalnya “nakal”. Anak yang terlabeli dengan kata “cah nakal”, dia akan selalu berpikir bahwa dia adalah anak yang nakal, jadi kalau dia berperilaku seperti anak nakal, itu tidak salah, begitu seterusnya sampai itu menjadi kebiasaannya dan lama-lama akan menjadi karakternya sampai dia dewasa. Nah lo…
4. Mengenali kelebihan dan kekurangan
Dengan mengetahui potensi yang menonjol dari seorang anak, kita dapat membantu dan mengarahkan mereka dengan kelebihan yang mereka miliki. Kita juga tidak “terjebak” meminta anak melakukan hal - hal yang belum atau tidak mampu dilakukannya. Sulit memang. Terkadang tanpa kita sadari, kita sering membandingkan anak kita dengan anak lain yg mempunyai kemampuan lebih. Misalnya ” lihat tuh mbak Digna, pialanya banyak banget. Dia pinter sih. Rajin, berani tampil lagi”. Waduh, jelas ini akan menyakiti hatinya. Pernah aku melakukannya dengan Aya. Hasilnya?? bukannya dia termotivasi, malah menangis sambil bilang “ibu nakal”. Woalah, pakai cara yang bener dong bu ngomongnya.
5. Mendengarkan Aspirasi Anak
Mendengarkan pendapat anak jika kita akan memutuskan sesuatu perlu kita lakukan. Apalagi “sesuatu” itu menyagkut kepentingan mereka juga. Hal ini memberi kesempatan anak untuk dapat mengekspresikan dirinya dan merasa dihargai, walaupun tentu saja keputusan “final” tetap ditangan orangtua. Aya sering kami minta pendapatnya apabila kita hendak “jalan-jalan” dihari minggu misalnya. Seperti, “habis ibu belanja Aya pingin makan siang dimana?”. Bisa ditebak, dia pasti akan menunjuk KFC atau Pizza Hut. Waduh, la nek kesana jelas lidah kami nggak 100% menerimanya. Solusinya, kita beri pengertian “win-win solution”. Yang pasti Aya tetap bisa makan disana dan kami bisa menikmati masakan Padang. Ya, untuk urusan sekecil ini saja kita butuh maukan dari anak. Jangan sampai kita memaksakan kehendak kita sendiri, apalagi bagi kami yang harus menghadapi selera makan aya yang “amburadul”.
6. Mengajarkan perilaku positif pada lingkungan
Jika kita berperilaku baik pada orang, maka orangpun akan berbuat baik pada kita. Biasakan anak untuk tersenyum, suka memberi dan meminta maaf pada orang lain. Dengan sendirinya orang - orang akan menyukainya. Dengan begitu, konsep dirinya akan menjadi positif, dia merasa dirinya layak mendapat penghargaan dari lingkungan. Kita sebagai orangtua jangan bosan untuk selalu mengingatkan anak agar berbuat baik, sopan, dll. dari hal - hal yang kecil lama - lama anak akan tahu bahwa perbuatan tersebut baik. Misal : Aya selalu kami biasakan untuk menunduk dan bilang “permisi” jika lewat didepan orang terutama yang lebih tua. Namun bukan hal yang mudah memang. Terkadang dia suka lupa, jalan asal nylonong, tanpa basa basi, bahkan sambil lari. Seiring dengan perkembangan wkatu, Insya Allah kebiasaan baik yang kita tanamkan sejak dini akan terbawa sampai mereka dewasa kelak.
7. Meluruskan pandangannya yang keliru
Terkadang anak tanpa sadar memiliki pandangan yang keliru terhadap lingkungannya. Misalnya menghina orang yang berpakaian lusuh, karena berpikir bahwa orang tersebut adalah orang miskin jadi tidak layak dihargai. Jika dibiarkan maka, anak akan tumbuh dengan prasangka terhadap stereotype tertentu dilingkungannya. Jika terbawa terus sangat dimungkinkan ia tidak disukai dilingkungannya sehingga dalam pergaulan akan tersisih. Tugas kita sebagai orangtua untuk memberikan meluruskan pandangannya yang keliru dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
8 . Mengenalkan teladan yang benar
Dijaman sekarang siapa sih anak-anak yang tidak kenal dengan Avatar?. Tidak ada bedanya dengan anak - anak lain, Aya sangat menyukai tokoh berkendaraan banteng terbang tersebut. Diapun sampai memaksa kami untuk mencarikan kaos bergambar Avatar dan Naruto. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk mengajarkan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan yang baik. Mengajarkan anak mencintai Rasulullah SAW bisa kita lakukan dengan membacakan buku - buku kisah teladan Rasulullah serta nabi - nabi Allah, VCD, lagu - lagu islami, dll. Dengan begitu, anak tidak terobsesi pada hal - hal yang semu, dan dia bisa mempunyai definisi “baik” yang jelas terhadap tokoh yang diidolakan sehingga Insya Allah memotivasi dia dalam berperilaku dan bercita-cita.
9 . Mengajarkan kecintaan kepada Allah
Ajarkan anak bahwa alam semesta seisinya ini adalah ciptaan Allah SWT. Allah adalah dzat tempat meminta, memohon pertolongan yang selalu mendengarkan doa - doa kita. Untuk itu biasakan anak untuk selalu berdoa kepada Allah. Jangan lupa juga, kita harus selalu mendoakan anak kita bahkan dengan suara keras agar anak ikut mendengarkan, sehabis kita melakukan sholat berjamaah dengan anak kita. Sulit memang untuk dilakukan, karena untuk membiasakan anak untuk sholatpun masih belum bisa. Namun Insya Allah lambat laun anak akan meniru kebiasaan baik orang tua apabila kita senantiasa memberikan teladan dan tidak lupa menyebut nama mereka dalam setiap doa - doa yang kita panjatkan.
Ada sebuah petuah yang Insya Allah akan selalu mengingatkan kita untuk selalu belajar menjadi orangtua yang baik bagi anak - anak kita :
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jik anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesrkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
(Dorothy Law)
Bagian mana yang sudah aku lakoni? Tentu saja sedikit banget yang sudah kami lakukan dengan baik, karena kami sendiripun masih harus banyak belajar sebagai orangtua. Semoga, semakin banyak kita membaca dan berbagi, akan membuat kami mengerti bagaimana menjadi “orangtua yang baik” bagi kedua buah hati kami.
(diadopsi dari buku catatan harian seorang gadis kecil “fayza kamalia” : aku senang belajar)